Mendagri AS Mengundurkan Diri

Mendagri AS Ryan Zinke mengundurkan diri. (Foto: AFP)

Washington: Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) Ryan Zinke mengundurkan diri. Zinke menyatakan akan meninggalkan jabatannya pada akhir tahun ini.

Presiden AS Donald Trump mengaku telah mengetahui perihal pengunduran diri Zinke. Bahkan, ia sempat mengumumkan hal tersebut di akun Twitter-nya.

“Mendagri @RyanZinke akan meninggalkan jabatannya pada akhir tahun ini setelah dua tahun bekerja. Saya ingin berterima kasih kepadanya atas pengabdiannya untuk AS,” tulis Trump pada Sabtu 15 Desember 2018.

Trump juga mengatakan, dirinya akan mengumumkan pengganti Zinke, pekan depan. Di AS, seorang menteri dalam negeri bertugas untuk mengawasi konservasi dan tambang di lahan publik.

Dilansir dari AFP, Minggu 16 Desember 2018, Zinke kini memang menjadi target penyelidikan kepolisian. Ia diduga terlibat kasus kepemilikan real estate dan kebijakannya.

Tak hanya itu, namanya ada di dalam 15 kasus yang sedang diselidiki. Salah satunya adalah menggunakan pengamanan negara saat berlibur ke Turki serta penggunan sejumlah penerbangan dengan pesawat non-komersil yang mahal. 

Zinke juga salah satu dari beberapa anggota kabinet Trump yang dikecam karena pengeluarannya yang besar. Dilaporkan, Kementerian Dalam Negeri AS menghabiskan hampir USD139 ribu untuk mengganti tiga pintu di kantornya.

(FJR)

Tiongkok Balas Tahan Dua Warga Kanada

MIchael Spavor (kiri) ketika memfasilitasi Dennis Rodman berkunjung ke Korut. (Foto: AFP)

Ottawa: Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan Tiongkok kembali menahan warga Kanada, setelah seorang warga bernama Michael Korvig juga telah ditahan.

“Kanada sangat prihatin dengan penahanan dua warga kami. Kami telah mengajukan kasus ini langsung ke Kementerian Luar Negeri Tiongkok,” ucap Freeland, dikutip dari AFP, Kamis 13 Desember 2018.

Warga Kanada ini bernama Michael Spavor, konsultan bisnis yang tinggal di Beijing. Ia pernah mengatur beberapa perjalanan ke Korea Utara, termasuk kunjungan atlet NBA Dennis Rodman. 

Ia menjalankan program Paektu Cultural Exchange, sebuah organisasi yang memfasilitasi perjalanan olahraga, budaya, pariwisata dan bisnis ke Korut.

Ia juga pernah muncul di media Korut ketika sedang berbincang dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, tahun lalu. 

Sementara itu, Michael Kovrig –yang ditahan kemarin– tercatat sebagai mantan diplomat yang bekerja di International Crisis Group di Beijing.


Michael Kovrig/CNN

Dia dilaporkan ditahan setelah Direktur Eksekutif Huawei, Meng Wanzhou, dijadwalkan menghadiri persidangan untuk pemeriksaan jaminan terkait dengan tuduhan pelanggaran sanksi Iran oleh Amerika Serikat (AS).

Penahanan dua warga Kanada ini merupakan tindakan balasan Tiongkok pascapenangkapan Meng di Kanada, beberapa waktu lalu.

Tiongkok menyatakan kemarahan mereka atas insiden penangkapan Meng di Vancouver. Pemerintah Tiongkok memperingatkan konsekuensi serius apabila Meng tidak segera dibebaskan.

Sementara itu, Kanada berdalih tidak memiliki kaitan atas kasus penangkapan Meng. Menurut Kanada, Pemerintah AS yang menginstruksikan penahanan Meng.

(FJR)

Comey Ajak Warga AS Bersama-sama Depak Trump di 2020

Mantan Kepala FBI James Comey di Washington, 7 Desember 2018. (Foto: AFP/ALEX EDELMAN)

New York: Mantan Kepala Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey mengajak warga Amerika Serikat untuk mengakhiri kepemimpinan Donald Trump lewat kemenangan “total” dalam pemilihan umum di tahun 2020. 

“Semua orang harus menggunakan semua kekuatan untuk memastikan kebohongan berakhir pada 20 Januari 2021,” ujar Comey, merujuk pada tanggal terakhir masa kepemimpinan Trump jika dirinya tidak berlanjut ke periode kedua.

Berbicara dalam sebuah acara di New York, ia meminta semua politikus Partai Demokrat untuk mengesampingkan perbedaan dan bersatu melawan Trump. Ia meminta Demokrat menominasikan calon presiden terbaik.

“Saya memahami Demokrat sedang berdebat mengenai siapa yang seharusnya menjadi kandidat mereka,” tutur Comey kepada Nicolle Wallace dari media MSNBC, Minggu 9 Desember 2018. 

“Tapi mereka harus menang. Mereka harus benar-benar menang,” lanjut dia.

Selama lebih kurang satu jam, Comey terus berbicara mengenai karakter Trump yang dianggapnya sudah mirip dengan bos mafia. Saat ditanya apakah Trump terkait dengan sejumlah kejahatan yang sedang diselidiki pengacara khusus Robert Mueller, Comey menjawab tidak tahu.

“Tapi jika memang tidak terlibat, saya rasa dia (Trump) berada dekat (dengan lingkar kejahatan yang dituduhkan Mueller), ungkap Comey.

Meski tidak menyukai Trump, ia berharap sang presiden terus melanjutkan kepemimpinan tanpa ada pemakzulan. Ia ingin Trump didepak lewat cara resmi, yakni kemenangan dalam pilpres untuk kubu Demokrat.

“Menyingkirkan dengan cara pemakzulan akan memperkeruh (nilai-nilai AS),” tegas Comey.

(WIL)

Trump Pilih Jubir Kemlu AS jadi Dubes PBB

Jubir Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert. (Foto: AFP)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan mengumumkan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert menjadi pengganti dari Nikki Haley sebagai duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dilansir dari BBC, Jumat 7 Desember 2018, tiga sumber dari pemerintahan telah mengonfirmasi bahwa Nauert akan menjadi dubes di PBB.

Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi pasti dari Kementerian Luar Negeri AS.

Baca: Dubes AS untuk PBB Mengundurkan Diri

Penunjukkan Nauert oleh Trump sebelumnya harus disetujui terlebih dahulu oleh Senat AS. Nauert yang juga mantan jurnalis ini dikenal tak memiliki pengalaman politik apa pun.

Selain itu, dia juga baru saja ditunjuk menjadi wakil sekretaris diplomasi dan urusan publik pada Maret tahun ini.

Nauert pernah bekerja di Fox News dari tahun 1998 hingga 2005. Setelah itu, ia sempat menghabiskan dua tahun untuk bekerja di ABC Australia, dan kembali ke Fox News pada tahun 2007.

Wanita berusia 48 tahun ini diangkat menjadi juru bicara Kemenlu AS pada April 2007. Posisi ini merupakan posisi pertamanya di pemerintahan. 

Jika benar bahwa Nauert akan menggantikan Haley maka ini pertama kalinya jabatan dubes AS di PBB bukan dipegang oleh diplomat karir Kemenlu AS. 

(FJR)

Trump Beri Penghormatan Terakhir untuk Bush Senior

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Ibu Negara Melania memberikan penghormatan terakhir kepada mantan presiden George H.W. Bush di Washington, Senin 3 Desember 2018. Jenazah Bush senior akan berada di US Capitol hingga Rabu 5 Desember.

Seperti dikutip dari kantor berita AFP, Trump beserta istri berkunjung singkat ke US Capitol, tempat bersemayamnya peti jenazah berbalut bendera AS. Keduanya memberikan penghormatan dan mengenang jasa-jasa presiden ke-41 AS tersebut.

Berdiri di depan peti jenazah Bush senior selama lebih kurang satu menit, Trump melakukan gestur penghormatan. Setelah itu, Trump dan Melania meninggalkan lokasi.

Bush senior meninggal dunia di usia 94 tahun di rumahnya di Houston, Texas, pada Jumat 30 November. Dalam beberapa tahun terakhir, Bush senior sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit.

Trump dijadwalkan menghadiri prosesi pemakaman di Washington National Cathedral pada Rabu mendatang. Acara tersebut akan menjadi pemakaman kepresidenan pertama sejak Gerald Ford yang meninggal dunia di tahun 2006.

Usai prosesi pemakaman itu, jenazah Bush senior akan kembali diterbangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan di Perpustakaan Kepresidenan di Texas. Mantan kepala Agensi Intelijen Pusat (CIA) itu akan disemayamkan di samping istrinya, Barbara Bush, yang berpulang sekitar tujuh bulan lalu.

Hubungan Trump dengan Bush senior tidak terlalu baik. Dalam pemilihan umum 2016, Bush senior menyatakan tidak memilih Trump meski keduanya sama-sama dari Partai Republik. Trump juga sempat mengkritik Bush senior semasa kampanye.

Baca: Trump Puji Kepemimpinan George HW Bush

Namun Trump meminta para anggota Kongres AS untuk mengenang Bush senior sebagai seorang pria “yang menjalankan hidupnya untuk menggaungkan betapa hebatnya Amerika.”

“Presiden Bush telah bekerja tanpa pamrih sepanjang hidupnya, untuk menghadirkan dunia yang adil dan damai,” tulis Trump.

Selain kepala CIA, Bush senior pernah menjadi pilot di Perang Dunia II, duta besar AS untuk Tiongkok dan PBB serta Wakil Presiden Ronald Reagan. Setelah menjadi wapres, Bush senior berhasil menjadi presiden.

Namun ia gagal melanjutkan masa kepemimpinannya untuk periode kedua karena buruknya kondisi perekonomian AS saat itu. Bush senior dikalahkan Bill Clinton dari Partai Demokrat.

(WIL)

Gempa Alaska Rusak Bangunan dan Picu Peringatan Tsunami

Kerusakan akibat gempa 7,0 SR di sebuah perpustakaan di Anchorage, Alaska, 30 November 2018. (Foto: AFP/HOLLY A. BELL)

Anchorage: Gempa bumi berkekuatan 7.0 Skala Richter yang mengguncang Anchorage, Alaska, Amerika Serikat, Jumat 30 November 2018, merusak sejumlah bangunan dan juga memicu peringatan gelombang tsunami. Tujuh orang dilaporkan terluka akibat guncangan kiuat ini.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan, pusat gempa berlokasi sekitar 13 kilometer dari utara Anchorage di kedalaman 40 km. Kepolisian Anchorage menyebut gempa di kota berpopulasi sekitar 300 ribu jiwa itu menimbulkan “kerusakan masif” infrastruktur.

“Banyak rumah dan bangunan yang rusak,” ujar Kepolisian Anchorage, seperti dikutip dari kantor berita AFP. “Banyak jalan dan jembatan ditutup. Jauhi jalan raya jika Anda tidak harus bepergian,” lanjutnya.

Peringatan tsunami sempat dikeluarkan untuk daerah Cook Inlet dan Semenanjung Kenai. Namun peringatan dicabut tak lama setelahnya.

Sejumlah warga Anchorage mengunggah foto serta video ke Twitter mengenai kerusakan bangunan akibat gempa. Terlihat banyak kaca pecah, rak buku berjatuhan, bangunan retak dan lainnya.

Media lokal KTVA terafiliasi CBS mengunggah sebuah video yang memperlihatkan sebuah ruangan yang rusak di tengah guncangan. Terlihat dalam video itu langit-langit jatuh, lampu berkedap-kedip dan orang-orang berlindung di bawah meja,

“Semua orang berlarian dari sebuah kafe kopi di Anchorage,” tutur Nat Herz, seorang reporter dari situs berita Energy Des.

Senator Alaska Lisa Murkowski mengatakan otoritas setempat khawatir aliran listrik akan terganggu setelah gempa. “Udara sangat dingin dan gelap di malam hari. Kami belum tahu status mengenai aliran listrik. Kami juga khawatir mengenai jaringan pipa gas,” sebut Murkowski.

(WIL)

Krisis Ukraina, Trump Mungkin Batal Bertemu Putin

Presiden AS Donald Trump dalam sebuah acara di Mississippi, 26 November 2018. (Foto: AFP/JIM WATSON)

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya mungkin akan membatalkan rencana pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan ini terkait dengan insiden Rusia yang sempat menembaki dan menahan tiga kapal Angkatan Laut Ukraina.

Kepada surat kabar The Washington Post, Selasa 27 November 2018, Trump mengaku masih menunggu laporan dari penasihat keamanan mengenai insiden tersebut.

Minggu 25 November, Rusia menembaki, menaiki dan menyita tiga kapal AL Ukraina di Selat Kirch yang berada di perairan Krimea. Krimea adalah wilayah yang telah dianeksasi Rusia dari Ukraina beberapa tahun lalu. 

“(Laporan) itu akan sangat menentukan. Mungkin saya tidak akan pernah menggelar pertemuan tersebut,” ucap Trump.

Baca: AS Peringatkan Rusia Terkait Krisis di Krimea

Moskow mengaku mulai melepaskan tembakan karena menilai tiga kapal Kiev melanggar batas wilayah perairan. 

Ukraina merespons dan mendesak agar ketiga kapal beserta semua kru dipulangkan. Ukraina juga meminta semua negara mitra untuk merespons Rusia, salah satunya dengan cara menjatuhkan atau meningkatkan sanksi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut insiden di Selat Kerch adalah “provokasi nyata” dari Kiev. Ia juga menuduh Uni Eropa selama ini “secara buta” mendukung Ukraina.

Satu hari insiden di Krimea, Dewan Keamanan PBB menentang usulan adanya pembahasan terkait hal tersebut. Namun tak lama berselang, DK PBB memutuskan menggelar pertemuan darurat.

(WIL)

Trump Minta Imigran di Perbatasan Tinggal di Meksiko

Ribuan imigran asal Amerika Tengah ingin mencari kehidupan baru di AS. (Foto: AFP)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa imigran dan pencari suaka asal Amerika Tengah yang berada di perbatasan akan tinggal sementara di Meksiko sampai permintaan mereka dikabulkan pengadilan.

“Para imigran di perbatasan tidak akan diizinkan masuk ke AS sampai klaim mereka disetujui di pengadilan. Kami hanya akan mengizinkan mereka masuk secara legal,” kata Trump, dikutip dari AFP, Minggu 25 November 2018.

“Selama belum disetujui, mereka akan tinggal di Meksiko,” lanjut dia.

Baca: Trump Izinkan Militer Tembak Imigran di Perbatasan 

Namun, Pemerintah Meksiko membantah klaim Trump tersebut. Meksiko mengatakan tak ada kesepakatan apa pun terkait imigran.

“Meksiko tidak dan belum membuat kesepakatan apa pun dengan AS terkait imigran. Dan pemerintahan juga sedang dalam transisi presiden baru,” sebut pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Meksiko.

Sebelumnya, sekitar 5.800 personel militer telah diperintahkan Trump untuk membantu penjagaan polisi di perbatasan AS-Meksiko. Utamanya, untuk menghalau para imigran dan pencari suaka masuk ke AS.

Para imigran tersebut kebanyakan berasal dari El Salvador, Guatemala dan Honduras.Mereka hendak masuk ke AS dan mencari suaka untuk melarikan diri dari kekerasan geng, persekusi dan kemiskinan di negara asal. 

(WIL)

Menhan AS Kerahkan Pasukan di Perbatasan Meksiko

Imigran asal Honduras yang akan menyeberang ke AS. (Foto: AFP)

Washington: Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) James Mattis menegaskan dirinya telah mengerahkan pasukan untuk ditempatkan di perbatasan Meksiko. Hal ini dilakukan untuk menghalau datangnya imigran asal Amerika Tengah.

Hingga saat ini, Gedung Putih telah menempatkan hampir 5.800 tentara sepanjang perbatasan. 

“Para imigran mencoba untuk memaksa masuk melalui pos perbatasan. Maka, kami perkuat pasukan di perbatasan mulai hari ini,” kata Mattis, dikutip dari AFP, Kamis 22 November 2018.

Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Meksiko, sekitar delapan ribu imigran sudah berjalan untuk masuk ke Amerika Serikat.

Mayoritas dari mereka melarikan diri dari kemiskinan dan kerusuhan di Amerika Tengah, yaitu El Salvador, Guatemala dan Honduras.

Tak hanya personel tentara yang dikerahkan, penghalang berupa kawat berduri juga dipasang di sepanjang tepi sungai perbatasan AS dan Meksiko.

Kawat berduri terentang sejauh mata memandang. Ini adalah hasil kerja lebih dari 100 personel militer Batalyon Insinyur 19 yang berbasis di Fort Knox, Kentucky, Amerika Serikat. 

Mereka semua ditugaskan di Laredo, sebuah kota perbatasan yang sibuk, menghadap ke hamparan sungai Rio Grande di Texas barat daya. 

(FJR)

Trump Enggan Dengarkan Rekaman Pembunuhan Khashoggi

Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump enggan mendengarkan bukti rekaman pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Baginya, pemberitahuan tanpa mendengarkan langsung sudah cukup.

“Saya tak punya alasan untuk mendengarkannya. Itu adalah rekaman yang mengerikan. Sangat menderita,” kata Trump, dikutip dari AFP, Senin 19 November 2018.

“Cukup bagi saya telah diberitahu soal rekaman tersebut,” lanjut Trump.

Trump menambahkan, laporan AS terkait kematian jurnalis Washington Post itu akan dirilis paling lambat hari ini, waktu Amerika.

Tak hanya itu, Trump juga menyangkal laporan CIA yang menyebutkan Pangeran Arab Saudi Mohammed bin Salman terlibat dalam pembunuhan Khashoggi.

Otoritas Turki mengklaim telah mendapatkan dua rekaman sebagai alat bukti. Masing-masing rekaman terjadi sebelum dan saat Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul, 2 Oktober 2018.

Surat kabar The Washington Post menyebut CIA merilis temuannya usai mengejar beberapa sumber intelijen. Salah satu sumber itu adalah panggilan telepon antara adik Pangeran Mohammed — Duta Besar Arab saudi untuk AS — dengan Khashoggi.

Dubes Pangeran Khaled bin Salman disebutkan telah meyakinkan Khasoggi bahwa sang jurnalis akan aman saat datang ke konsulat di Istanbul untuk mengambil sejumlah dokumen.

(FJR)

AS Sambut Baik Dakwaan Hukuman Mati Pembunuh Khashoggi

Juru Bicara Kemenlu AS Heather Nauert sambut baik dakwaan Arab Saudi terhadap kasus Jamal Khashoggi. (Foto: AFP).

Washington: Amerika Serikat (AS) menyambut baik dakwaan penyelidikan Arab Saudi atas pembunuhan Jamal Khashoggi. Arab Saudi sebelumnya menyebutkan mendakwa lima orang pelaku pembunuhan Khashoggi dengan hukuman mati.

Baca juga: Hukuman Mati Pembunuh Jamal Khashoggi.

Menurut Kementerian Luar Negeri AS dakwaan ini sebagai ‘langkah pertama yang baik’. Namun mereka mendesak Riyadh untuk melanjutkan penyelidikannya.

Juru bicara Kemenlu AS Heather Nauert mengatakan tidak ada koordinasi sebelumnya dengan Amerika Serikat, yang secara bersamaan mengumumkan sanksi terhadap 17 pejabat Arab Saudi atas pembunuhan itu. Dia tidak mengesampingkan sanksi lebih lanjut karena lebih banyak rincian terungkap dalam kasus ini.

“Kami menganggap pengumuman yang mereka buat sebagai langkah pertama yang baik, itu adalah langkah ke arah yang benar,” kata Nauert kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Jumat, 16 November 2018.

“Ini adalah temuan penyelidikan awal. Penting bahwa langkah-langkah itu terus diambil menuju akuntabilitas penuh,” tegasnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Prancis pada Kamis 15 November. Prancis menyebutnya sebagai ‘langkah ke arah yang benar’ dalam penyelidikan yang disaksikan oleh dunia.

Dalam sebuah pernyataan, kementerian luar negeri Perancis mengulangi seruan Presiden Emmanuel Macron untuk membuka fakta dari pembunuhan Khashoggi di Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul  pada 2 Oktober.

“Kami akan terus mempelajari perkembangan dalam kasus ini dengan seksama,” debut pihak Prancis.

Baca juga: Arab Saudi Tolak Penyelidikan Internasional Kasus Khashoggi.

Jaksa penuntut umum Arab Saudi pada Kamis menyerukan hukuman mati terhadap lima orang yang dituduh membunuh Khashoggi, yang dibius dan tubuhnya dimutilasi oleh pengakuan otoritas Saudi. Sebanyak 21 orang telah ditangkap atas pembunuhan itu, diantaranya 11 orang telah didakwa.

Khashoggi, seorang kontributor Washington Post, tinggal di pengasingan di Amerika Serikat dan mengkritik Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Pihak kerajaan membantah bahwa Pangeran Mohammed terlibat.

(FJR)

Korut Sembunyikan 13 Pangkalan Rudal

Citra satelit yang menunjukkan pangkalan rudal tersembunyi Korut. (Foto: CSIS/CNN)

Washington: Sebuah temuan baru yang dirilis Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa Korea Utara (Korut) masih mengoperasikan sedikitnya 13 pangkalan yang digunakan untuk menyembunyikan rudal. 

Para peneliti dari Center for Strategic and International Studies di Washington menambahkan bahwa 13 pangkalan rudal tersebut sengaja disembunyikan dan belum diumumkan oleh Pemerintah Korut.

“Ini tidak seperti pangkalan-pangkalan yang telah dihancurkan,” kata Victor Cha, pemimpin program CSIS Korut kepada New York Times, Selasa 13 November 2018.

“Pekerjaan (rudal) terus berlanjut. Apa yang orang khawatirkan adalah Presiden AS Donald Trump akan menerima kesepakatan yang buruk, misalnya dengan meyakinkan bahwa ada sejumlah pangkalan yang sudah dihancurkan untuk menutupi sejumlah pangkalan yang disembunyikan,” lanjut dia.

Baca: Ingin Capai Denukrilisasi, Korut Minta Dukungan ASEAN

Victor merupakan orang yang pernah ditunjuk menjadi kandidat Duta Besar AS di Korea Selatan, namun dicabut karena dianggap tak sejalan dengan administrasi Trump.

Disebutkan pula, pangkalan-pangkalan tersebut tersebar di seluruh Korut dan terletak di fasilitas bawah tanah dan terowongan di lembah gunung.

“Setiap rudal di pangkalan-pangkalan ini dilengkapi hulu ledak,” ungkap Victor.

Tak hanya itu, rudal ini disinyalir bisa menyerang Jepang dan seluruh Korea Selatan dan termasuk rudal jarak menengah yang terbang sekitar 90-150 kilometer. 
 

(WIL)

Pesawat Boeing Mendarat Darurat di Guyana, Penumpang Terluka

Pesawat Fly Jamaica Airways mendarat darurat di Guyana. (Foto: Express.co.uk).

Georgetown: Sebuah pesawat penumpang milik Fly Jamaica Airways mendarat darurat di Guyana. Enam orang penumpang dilaporkan terluka.
 
Pesawat jenis Boeing itu mendarat darurat di Georgetown, Guyana, Jumat 9 November 2018. Terbang menuju Toronto, Kanada ini mengalami kerusakan pada sistem hidroliknya sesaat setelah lepas landas.
 
“Pesawat itu mendarat darurat setelah lepas landas dan sempat  tergelincir di landasan,” ujar Menteri Transportasi Guyana, David Patterson, seperti dikutip AFP, Jumat, 9 November 2018.
 
Menurut Patterson, luka yang diderita para penumpang tidak mengancam jiwa. Saat ini korban luka sudah dibawa rumah sakit dekat bandara yang berdekatan dengan perbatasan Venezuela.
 
“Semua korban dalam kondisi stabil dan terus dipantau. Tidak ada penumpang yang dilaporkan menderita patah tulang,” imbuh Patterson.
 
Diketahui ada 118 penumpang dalam pesawat Boeing 757-200, termasuk 82 warga Kanada. Sementara delapan awak kabin juga berada di pesawat itu.
 
Kepolisian Guyana mengamankan lokasi kecelakaan agar penyelidikan bisa dilakukan. Pihak National Transportation Safety Board (NTSB) Amerika Serikat juga sudah mengetahui insiden ini.
 
Pihak maskapai pun memastikan bahwa penumpang dalam kondisi aman. Mereka juga mengakui ada kerusakan teknis dari pesawat yang membuatnya melakukan pendaratan darurat.

(FJR)

Jutaan Warga AS Beramai-ramai Ikuti Pemilu Sela

Warga mengantre untuk menggunakan suara mereka dalam pemilu sela di San Diego, California, AS, 6 November 2018. (Foto: AFP / Ariana Drehsler)

Washington: Jutaan warga Amerika Serikat beramai-ramai mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih perwakilan mereka di Kongres dalam pemilihan umum sela, Selasa 6 November 2018. Pemilu sela ini memperebutkan 435 kursi dewan perwakilan, 35 tingkat senat dan 36 level gubernur.

Dari New York hingga California, dan dari Missouri sampai Georgia, terjadi antre panjang di TPS sejak pagi buta. Antrean ini terjadi setelah warga AS melewati masa kampanye ‘panas’ Partai Demokrat dan Republik. 

Demokrat berjuang keras agar dapat mendominasi jumlah kursi di dewan perwakilan dan juga senat. Namun media lokal menyebutkan Demokrat cenderung lebih fokus pada kursi dewan perwakilan. 

Kantor berita CBS mengestimasi Demokrat akan memenangkan 225 kursi dewan, sementara Republik 210. Angka 225 sudah melewati jumlah minimum 218 untuk mencapai mayoritas.

Namun estimasi tersebut memiliki margin of error 13 kursi untuk masing-masing kubu. Ini artinya, hasil akhir akan ditentukan kepada setiap pemilih yang hadir atau absen dalam pemilu sela.  

Republik memiliki peluang yang lebih baik di level Senat, di mana beberapa petahana Demokrat mempertahankan kursi mereka di sejumlah negara bagian yang dimenangkan Presiden Donald Trump pada 2016. 

Sejumlah media lokal memperkirakan tingkat keikutsertaan warga pada pemilu sela kali ini lebih tinggi dari pemilihan sebelumnya. 

(WIL)

Enggan Bersihkan Kamar, Bocah AS Tembak Neneknya

Ilustrasi penembakan. (Foto: Medcom.id)

Los Angeles: Bocah 11 tahun dilaporkan menembak neneknya sendiri karena kesal usai disuruh membersihkan kamarnya. Korban ditembak di bagian belakang kepala, dan bocah itu kemudian menembak dirinya sendiri.

Yvonne Woodard, 65, ditembak di rumahnya di kota Litchfield Park, Arizona, Amerika Serikat, saat sedang menonton televisi bersama suaminya.

“Sang kakek mengatakan kepada polisi cucunya marah karena diminta membereskan kamar,” kata Kepolisian Arizona, seperti dilansir dari laman The Star, Selasa 6 November 2018.

Juru bicara Kepolisian Sektor Maricopa Sersan Joaquin Enriquez mengonfirmasi kepada media lokal bahwa pasangan itu memang sedang menonton televisi sesaat sebelum kejadian. “Pelaku membawa pistol dan langsung menembak neneknya,” ucap Enriquez.

“Pemeriksaan awal kasus ini menunjukkan tidak ada tanda-tanda pelaku berpotensi melukai seseorang atau dirinya sendiri. Tidak ada penyebab yang bisa mengindikasikan pelaku mungkin melakukan penembakan ini,” lanjut dia.

Usai penembakan, suami korban sempat mengejar bocah tersebut. Namun, di saat yang bersamaan, pelaku menembak dirinya sendiri. Pelaku serta neneknya meninggal dunia akibat luka tembak jarak dekat.

Polisi menyebut pistol yang digunakan adalah milik kakek pelaku. Pasangan suami istri itu memiliki hak asuh penuh terhadap cucunya. 

(WIL)